mie ayam ngeunah teuing(testing)

mie ayam enak
mie ayam adalah makanan paling ngeunah teuing se jagat raya
Sore itu langit sedikit mendung. Angin berembus pelan membawa aroma khas yang selalu membuat perut tiba-tiba lapar — bau mie ayam dari gerobak tua di ujung gang.
Gerobak itu sudah ada sejak aku masih kecil. Catnya mulai pudar, rodanya berdecit jika didorong, tapi rasanya… tidak pernah berubah.
“Seperti biasa ya, Mas?”
Suara Pak Rahmat, penjual mie ayam itu, selalu ramah.
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, suara air mendidih terdengar. Mie kuning ditarik dari saringan, ditata rapi di mangkuk. Potongan ayam kecap yang harum disiram perlahan, disusul kuah hangat dan taburan daun bawang.
Satu mangkuk mie ayam sederhana.
Tapi rasanya selalu punya cerita.
Saat aku menyeruput kuahnya, ingatanku melayang ke masa lalu. Dulu aku sering datang bersama ibu. Kami duduk di bangku kayu kecil, berbagi satu mangkuk karena uang belum cukup untuk dua.
“Ibu nggak lapar,” katanya waktu itu.
Padahal aku tahu, ibu hanya ingin aku kenyang.
Kini aku datang sendiri. Bangku yang sama, mie ayam yang sama, tapi orang di sebelahku sudah tak ada.
Pak Rahmat meletakkan segelas teh hangat.
“Masih enak, kan?” tanyanya.
Aku tersenyum kecil.
“Masih… dan selalu.”
Sore itu, aku sadar —
kadang yang membuat makanan terasa istimewa bukan hanya rasanya,
tapi kenangan yang ikut tersaji di dalamnya.
Dan mie ayam itu, seperti biasa, tetap hangat…
meski hatiku sempat dingin oleh rindu.
| ok | ok | ok |
|---|---|---|
| done | done | done |
| need fixing | need fixing | need fixing |

